Wanita inspiratif ini adalah Ibu dari dua anak yang meninggalkan karier cemerlang di dunia konstruksi dan memilih memfokuskan diri di dunia motivasi. Mengapa dan apa yang dia dapatkan dari sana?

Suatu pagi di Lhokseumawe, beberapa bulan setelah tsunami melanda Aceh pada 2004, Motivator wanita Ainy Fauziyah tengah berjalan-jalan di sekitar lokasi rekonstruksi. Dia melihat ibu-ibu yang duduk berkelompok sambil membicarakan kondisi mereka. Ingin tahu lebih jauh, sang programmer shelter coordinator dari OXFAM Great Britain ini pun menyapa para perempuan tersebut.

Obrolan singkat dengan para perempuan Aceh tersebut membuat Ainy berpikir tentang pentingnya kegiatan produktif bagi mereka, minimal untuk mengisi waktu dan mengurangi bergosip. “Saya punya pengalaman pribadi saat mengecat rumah saya sendiri. Saya pikir itu kegiatan yang menyenangkan, tidak berat karena menggunakan roller. Saya pun berencana menawarkan program ini pada mereka, tentu diawali dengan training agar mereka bisa bekerja secara professional dan mendapat gaji yang layak,” tutur peraih gelar Master Urban Management dari Canberra University, Australia, ini bersemangat.

Analisis Ainy tidak salah. Dengan model kerja berkelompok serta jam kerja yang fleksibel, terbukti bahwa para perempuan itu mampu menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang lebih baik, serta waktu yang lebih cepat dibanding pekerja lelaki. Berawal dari 37 orang, hingga akhir proyek Ainy telah memberdayakan 500 perempuan Aceh.

Tinggalkan zona nyaman
Kesuksesan Ainy dalam memberdayakan perempuan Aceh sebagai tukang cat profesional mendapat apresiasi tinggi dari non-governmental organization (NGO) tempatnya bekerja. Bahkan inisiatif ini membawa Ainy menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan aktivis kemanusiaan di Jenewa, Swiss, dan Chennai, India. Peluang untuk berkarier di lembaga internasional pun terbuka lebar, berupa tawaran untuk bekerja di lembaga kemanusiaan milik PBB.

“Awalnya saya sangat senang karena bekerja di PBB adalah mimpi yang sudah saya pupuk sekian lama. Namun tiba-tiba muncul pemikiran di kepala saya, kalau saya ambil pekerjaan ini, bagaimana peran saya sebagai istri dan ibu? Saya tidak mau egois dengan memaksa suami dan anak-anak mengikuti saya bekerja berpindah-pindah Negara,” ujar istri dari Wisnu Primulyono ini.

Pemikiran itu membuat Ainy merenung panjang. Dengan jujur dia mengakui bahwa keluarga adalah hal terpenting baginya. Di sisi lain melepaskan sebuah tawaran yang menjadi impiannya sekian lama sungguh tidak mudah. Berbekal keyakinan yang didapatkannya melalui salat istikharah, akhirnya dia menolak tawaran kerja tersebut dan memilih kembali berkumpul bersama suami dan anak-anaknya.

Tidak gampang meninggalkan zona nyaman. Ainy sempat mengalami stres dan merasa tidak berarti. Setelah sekian lama mencoba aktivitas baru dan tidak berjalan mulus, pada suatu titik Ainy teringat kembali akan aktivitasnya memberdayakan perempuan Aceh. Dia tiba-tiba menyadari bahwa hal yang paling membahagiakan dan selalu membuatnya bersemangat adalah ketika berhasil memotivasi orang lain untuk bangkit dari permasalahan hidup serta fokus meraih impian.

“Kini saya meneruskan apa yang saya lakukan di Aceh yaitu membangun optimisme bahwa perempuan bisa melakukan apa pun yang mereka ingin kan. Asalkan hal itu baik dan tidak meninggalkan peran utama mereka sebagai istri dan ibu,” ucap penerima penghargaan Indonesia Digital Women/ INDI Awards 2013 ini.

Pemikiran ini mendorongnya terjun ke dunia motivasi. Memulai karier pada tahun 2009, kini wanita inspiratif Ainy Fauziyah telah menjadi pembicara di lebih dari 100 perusahaan ternama di Indonesia dengan peserta mencapai 100.000 orang. Dia bekerja dengan sebuah misi, yaitu mengangkat harkat dan derajat hidup banyak orang dan mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin yang berintegritas, baik di bidang politik maupun ekonomi. Selain itu, setiap bulan dia juga rutin menyelenggarakan kelas motivasi secara cuma-cuma untuk kelompok dhuafa dan kaum tunanetra.

Rahasia mental positif
Sekian tahun menggeluti bidang motivasi, peraih SheCAN AWARD 2011 ini mendapat banyak hal berharga. Di antaranya bertemu dengan orang-orang luar biasa, yang selalu rindu melakukan hal-hal besar dan selalu berusaha menjadikan dirinya bermanfaat untuk banyak orang.

“Orang-orang luar biasa yang saya maksudkan tidak melulu CEO, pejabat, atau pengusaha tetapi juga mereka yang tidak berpendidikan dan memiliki tingkat ekonomi rendah tetapi tetap rendah hati dan mulia hatinya. Pertemuan dengan orang-orang ini membuat saya berkaca dan ingin terus melakukan kebaikan,” ungkap penulis buku Dahsyatnya Kemauan dan Rahasia Menembus Kesulitan ini – yang mana royalti dari kedua buku tersebut seluruhnya disalurkan untuk beasiswa pendidikan anak yatim dan dhuafa.

Menjadi seorang motivator, mensyaratkan sikap mental positif. Bagaimana Ainy menumbuhkan mental tersebut? “Untuk memiliki mental positif, rahasianya hanyalah satu. Kenali tujuan hidup kita yang sebenarnya dan selalu berniat baik,” pesan penerima Anugrah Sekar Bangsa 2013 yang diadakan oleh Yayasan Puteri Indonesia (YPI), untuk Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan ini.

Topik Lain Yang diMinati