Investor Daily Karier cemerlang ternyata bukan jaminan bagi seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam bekerja. Tak mengherankan jika sebagian orang kemudian mengubur karier yang telah dirintisnya sekian lama demi mengejar kesuksesan di bidang lain. Banyak yang berhasil. Tapi, tak sedikit pula yang akhirnya tersesat dan terpuruk. Begitu pula yang dialami Ainy Fauziyah, pemilik dan direktur PT Aifa Globalindo. Bekerja di sejumlah bidang profesi tak membuatnya bahagia.

Setelah melintasi jalan panjang, mendaki, dan berliku, perempuan kelahiran Bangil, Jawa Timur, ini akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Menjadi motivator telah memberinya kepuasan batin dan kebahagiaan dalam bekerja.

Kebahagian hidup Ainy Fauziyah semakin bermakna ketika ia bisa membantu pendidikan anak-anak kaum duafa, menyediakan waktu untuk menjadi motivator bagi orang-orang yang terpapar HIV/AIDS, serta mendedikasikan diri di sejumlah yayasan sosial.

Mengucapkan selamat tinggal kepada karier yang telah dirintisnya sekian lama tentu saja tak mudah. Saat mendekati akhir pekerjaan dan harus memilih keluar, Ainy Fauziyah sempat dilanda ketakutan. “Ternyata, ketakutan itu hanya bayangan. Ketakutan harus dilawan. Selama benar dan niatnya baik, pasti ada jalan,” ujar Ainy kepada wartawan Investor Daily Abdul Muslim di Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga : Kompas.com – Pentingnya Menyebar “Virus” Tanggung Jawab

Keyakinan Ainy Fauziyah terhadap jalan hidup yang dipilihnya diilhami oleh pengalamannya mendaki bukit saat mengikuti training kepemimpinan di Jepang. “Dari 20 anak Asean, saya nomor dua paling belakang. Saya merasa nggak suka, nggak enak. Akhirnya saya menantang diri saya sendiri. Saya mencari teman orang Singapura, cowok, untuk naik ke puncak bukit. Akhirnya, saya bisa nomor dua dari depan. Dari situ, saya sadar bahwa tak ada yang perlu ditakuti di dunia ini. Selama niatnya baik, pasti ada jalan,” tutur dia.

Ainy Fauziyah sempat menjalani karier sebagai orang kantoran dengan jabatan terakhir manajer perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perumahan di Jakarta. Namun, dia selalu merasa gelisah karena belum menemukan kebahagiaan dalam bekerja. Akhirnya ia nekat keluar dari BUMN dan memilih bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Aceh selama empat tahun (2005-2009), masing-masing dua tahun di Oxfam Great Britain dan Care International.

Di LSM tersebut, Ainy punya jabatan mapan. Ia sempat menduduki posisi program shelter coordinator dan menjadi satu-satunya wanita asal Indonesia yang membawahkan shelter coordinator orang-orang asing yang umumnya laki-laki. Toh, akhirnya Ainy sadar bahwa itu bukan dunianya. “Saya merasa lebih cocok dan bahagia hidup dengan menjadi motivator,” kata lulusan Canberra University, Australia ini.

Kembali ke Jakarta, Ainy pun mendirikan PT Aifa Globalindo pada 2009. Dia mengembangkan metode motivasi dari penghalang menjadi peluang serta metode bertanya ke diri sendiri (self talk) untuk menyelesaikan masalah klien. Sempat tertatihtatih karena sulit mendapatkan klien, Ainy akhirnya eksis di bidang tersebut. Ia bahkan menyabet sejumlah penghargaan sebagai perempuan inspiratif karena kiprahnya. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Baca juga : Kompas.com – Menjadi Motivator Keluarga dengan Kebesaran Hati

Kapan Anda sadar dan merasa cocok menjadi motivator?
Ini jasa besar suami saya. Beliau tahu, sejak dulu, orang sering curhat ke saya. Ketika di Aceh, bekerja di LSM, saya terbiasa memotivasi para perempuan di sana. Saya suka perempuan yang mandiri tanpa membebani suaminya. Saya seringkali melihat perempuan di Aceh, ibu-ibu pagi-pagi ngobrol saja. Dari situ, saya berpikir agar mereka punya kesibukan. Akhirnya, saya menawari mereka pekerjaan.

Saya beli buku-buku motivator dan saya praktikkan. Aceh merupakan masa transisi dan titik balik hidup saya. Setelah itu, saya ngomong ke suami, saya ingin menjadi motivator. Motivator perempuan waktu itu belum umum, semuanya laki-laki. Yang ada mungkin baru Merry Liana.

Aifa Globalindo adalah impian Anda?
Ya, itu impian saya. Itu saya dirikan bersama suami saya.

Ada makna tersendiri pada nama tersebut?
Aifa Globalindo maksudnya Ainy Fauziyah dari Indonesia yang ingin mengglobal.

Anda punya bekal pendidikan sebagai motivator?
Saya mengambil gelar Certified Professional Coach (CFC) dari International Coach Academy, Certified of Hypnosist (Cht) by Hypnosis Motivation Institite, Tanzania California, dan kursus lain untuk mendukung profesi motivator. Saya lulusan S2 Urban Management dari Canberra University, Australia. Karena rasa bangga pada profesi motivator, saya hanya gunakan gelar CPC dan Cht di belakang nama. Sedangkan gelar pendidikan insinyur dan S2 di Australia tidak saya pakai.

Baca juga : Kompas.com – Menjadi Ibu yang Bahagia dan Penuh Cinta

Apa yang harus dimiliki oleh seorang motivator?
Bagi saya, motivator tak harus punya kedudukan tinggi, atau jabatan, atau materinya, atau kaya raya. Bagi saya, motivator yang penting bisa bermanfaat bagi orang lain, serta happy dan bangga dengan diri sendiri. Waktu kuliah di Australia dan masih bekerja di BUMN, saya bertemu dua orang dengan tipe yang berbeda. Pertama, tukang sapu dari Pakistan, dia selalu menyapa saya tiap pagi ketika saya pergi ke kampus.

Kalau saya lewat disapa good morning Ainy dengan ramah dan bahagia. Saya bertemu juga dengan petugas di perpusatakaan, mereka happy dan bangga melayani orang dengan baik. Kemudian, saya berkaca, apa yang salah dengan diri saya, sehingga kurang bahagia? Saya pun berusaha mencari cara agar bahagia seperti mereka dan berbagi dengan orang lain.

Kenapa Anda kurang bahagia bekerja di BUMN?
Saya sebenarnya tak merasa hidup saya jatuh secara ekonomi. Sebab, secara keuangan, gaji saya cukup. Saya merasa hidup banyak tantangan dan kesulitan, tapi kok kayak begini aja. Saya seringkali sakit ketika masih di BUMN. Setelah keluar dari BUMN pada Mei 2005, pada Juni di tahun yang sama, saya bekerja pada LSM di Aceh hingga 2009. Saya bekerja di dua LSM untuk daerah bencana dan konflik.

Kami membangun perumahan untuk korban tsunami. Terakhir, saya sempat naik jabatan menjadi program shelter coordinator, sehingga saya membawahkan shelter coordinator orang-orang asing. Kalau masih di BUMN, saya tak bisa seperti itu.

Anda langsung sukses menjadi motivator?
Ternyata sulit sekali mencari klien. Sampai tiga bulan, proposal selalu ditolak. Dan ketika kebanting-banting, saya punya banyak tawaran dari luar negeri dan teman-teman untuk bekerja lagi di LSM, di daerah bencana.

Suami juga tetap memberikan dukungan jika saya mau menerimanya, misalnya untuk jangka waktu tertentu. Tapi saya tak suka setengah-setengah, saya suka totalitas. Jadi, saya tolak semua tawaran yang masuk. Saya sudah berjanji akan mengerjakan sesuatu yang baru dan saya inginkan.

Baca juga : Kompas.com – Mengapa Bidan Butuh Motivasi?

Anda sempat merasa takut saat harus memilih profesi?
Ketika mendekati akhir bekerja di Aceh, saya ketakutan. Namun, semakin kudekati dan kuselami, ketakutan itu semakin sirna. Ternyata, ketakutan hanya bayangan saja. Ketakutan itu harus dilawan dengan pegangan, salah satunya buku-buku motivasi. Kalau ke toko buku, saya selalu beli buku baru tentang pengembangan diri. Misalnya cheerleader cacat yang berhasil bangkit. Mereka bisa, berarti saya juga pasti bisa. Hingga saat ini, mungkin saya telah baca lebih dari 100 buku motivasi.

Apa yang mengubah hidup Anda?
Sebelum ke Aceh dan keluar dari perusahaan BUMN, saya sempat ikut training tentang leadership bersama Honda Foundation di Jepang selama 1-1,5 bulan. Waktu itu, saya disuruh naik bukit. Dari 20 anak Asean, saya nomor dua paling belakang. Dari situ, saya merasa nggak suka, nggak enak. Saya akhirnya menantang diri saya sendiri. Saya mencari teman orang Singapura, cowok. Akhirnya, saya bisa nomor dua dari depan yang berhasil mencapai puncak bukit. Saya tersadar bahwa tak ada yang perlu ditakuti lagi di dunia ini. Selama benar dan niatnya baik, pasti ada jalan. Pengalaman dari Jepang membulatkan tekad saya untuk keluar dari BUMN.

Yang paling membekas saat bekerja di LSM?
Saya menulis buku selama empat tahun ketika masih di Aceh dan selesai sekitar 85% walaupun tulisan acak-adut (amburadul). Tapi itu sempat hilang. Ya Allah, bayangin, saya punya kebisaan save-delete. Saya simpan di komputer dan hilang. Saya perbaiki di Jakarta dan saya terbitkan dengan judul Dahsyatnya Kemauan. Saya selalu bertanya, empat tahun? Kamu maunya apa, baik ketika senang maupun sedih? Kalau mau memotivasi orang agar punya kemauan luar biasa, apakah Ainy punya keinginan yang juga besar? Tujuan menulis apa? Saya ingin meninggalkan untuk anak dulu. Itu di antaranya isi buku pertama saya. Saya juga sedang menyiapkan penerbitan buku kedua.

Anda bangga pada pilihan hidup sebagai motivator?
Pasti. Kebanggaan itu terutama muncul ketika orang percaya kepada saya. Orang berubah kan karena percaya. Kemudian, mereka melakukan dan menggandeng orang lain.

Anda merasa sudah mengambil pilihan yang benar?
Tentu. Prinsip saya, hidup harus bermanfaat bagi banyak orang. Awalnya dari situ. Akhirnya, ya Allah, pilihan saya ternyata benar. Motivator itu kerjanya menggugah orang lain. Itu kenikmatan yang luar biasa.

Bagaimana dengan dukungan keluarga?
Suami sangat mendukung saya, termasuk ketika keluarga besar menentang saya keluar dari BUMN perumahan. Yang jelas, hidup bukan untuk diri sendiri, tapi juga harus bermanfaat bagi orang lain. Yang pertama untuk keluarga dan kedua untuk orang lain. Jadi, keluarga dulu nomor satu. Itu pasti. Saya punya dua anak. Yang pertama laki-laki dan kedua perempuan, masing-masing kelas 1 SMA dan 1 SMP. Alhamdulillah sudah komplit, sekarang tinggal menikmati hidup. Hidup harus dinikmati, saya tak mau terjebak oleh materi.

Baca juga : Kompas.com – Puteri Indonesia Antusias Ikuti Kelas Motivasi

Siapa motivator yang Anda kagumi?
Yang jelas, saya kagum pada motivator-motivator seperti Pak Mario Teguh, Ary Ginanjar Agustian dari ESQ, Pak Kung, siapa sajalah. Saya kagum pada setiap orang, baguslah. Saya tak suka rivalitas, mungkin Karena background saya dari LSM.

Klien yang Anda tangani?

Kami banyak menangani klien besar, antara lain dari Bank Mestika, Bank Indonesia (BI), Pertamina, Isuzu, dan lainnya. Sekarang bisa 4-8 kelas korporasi atau kelompok saya tangani setiap bulan.

Summary
Investor Daily - Jangan Takut pada Pilihan
Article Name
Investor Daily - Jangan Takut pada Pilihan
Description
Dalam karier motivator hebat Ainy Fauziyah, karier cemerlang ternyata bukan jaminan bagi seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam bekerja. Tak mengherankan jika sebagian orang kemudian mengubur karier yang telah dirintisnya sekian lama demi mengejar kesuksesan di bidang lain.
Publisher Name
Investor Daily
Publisher Logo

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment