Investor Daily – Semangat Ainy Fauziyah memotivasi banyak orang tak pernah surut. Tapi motivator juga manusia. Karena itu, Ainy tak lupa meluangkan waktu untuk menyegarkan diri dengan mendengarkan musik, berkumpul bersama keluarga, dan aktif di kegiatan lingkungan hidup, agar kembali bersemangat.

Bertemu dengan Ainy Fauziyah, rasanya energi positif mengalir ke tubuh. Bahasa tubuhnya, gaya bicaranya, dan matanya, ya matanya, begitu hidup. Seperti namanya yang berarti ‘mata yang beruntung’, mata Ainy seakan memancarkan aura keberuntungan bagi orang yang berada di dekatnya, melalui kata-kata penyemangatnya.

“Saya senang mengubah mindset orang lain dan membuat mereka percaya bahwa mereka bisa melakukan sesuatu,” kata motivator Ainy Fauziyah kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Mengubah mindset orang lain, diakui perempuan kelahiran Bangil, 29 November 1969 itu, tidaklah mudah. “Ego mereka harus disentil supaya tergugah dan harus jujur pada diri sendiri, siapa kita?” ungkap penulis buku Dahsyatnya Kemauan: Cara Mulia Mengubah Penghalang Jadi Peluang itu, bangga.

Sebagai motivator, sudah tentu Ainy diharuskan bisa merangkul, menyentuh hati, membuka pikiran, menyemangati, dan memberikan solusi bagi orang lain, meski mungkin saja ia sendiri juga sedang penat. Maklumlah, motivator juga manusia.

Tapi bukan Ainy namanya bila patah semangat. Untuk mengatasinya, ibu dari dua anak itu mengisi waktu luangnya dengan mendengar musik. Musisi dan penyanyi kesukaannya adalah Yanni, Kitaro, Phill Collins, Sting, dan Light House Family.

Baca juga : Kompas.com – Menjadi Ibu yang Bahagia dan Penuh Cinta

“Rasanya setelah mendengarkan musik mereka, saya menjadi rileks, senang, energik, banyak ide, dan makin semangat,” ungkap Ainy yang selalu mendengarkan lagu dari penyanyi favoritnya saat menyetir atau di sela waktu kerja.

Ada satu lagi musik yang membuatnya makin semangat, yaitu permainan piano dari putra pertamanya, Rafi Rizky. “Kalau santai di rumah, saya senang dengerin dia main piano. Rasanya gimana gitu,” tutur Ainy yang terpilih sebagai Perempuan Inspiratif 2010 di ajang Tupperware She Can.

Selain Rafi, putri bungsunya juga membuat hidupnya makin semangat. Ya, seperti ibunya, putri Ainy juga gemar menulis. Mereka berdua memiliki momentum unik. “Ketika saya sedang menulis buku, putri saya juga menulis karangannya. Kami berdua berlomba menulis, ha ha ha,” cerita Ainy yang mengambil program Master of Urbant Management di Universitas of Canberra, Australia.

Di sela kesibukannya, Ainy ternyata juga pencinta dan aktif menjadi volunteer di beberapa organisasi lingkungan hidup. Beberapa waktu lalu, bersama organisasi lingkungan hidup Green Edelweiss Foundation dan Puteri Indonesia 2010 Nadine Alexandra Dewi Amesta, Ainy melakukan penanaman pohon bakau di hutan bakau Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Namun, yang menarik dari sikap cinta lingkungannya justru adalah hal-hal kecil yang ia lakukan sehari-hari. “Kalau habis makan sesuatu, seperti permen dan tidak ada tempat sampah, saya selalu menyimpan sampahnya di tas. Ini sepele, tetapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, bagaimana kita mau disiplin menjaga kebersihan lingkungan,” kata Ainy.

Baca juga : Kompas.com – Mengapa Bidan Butuh Motivasi?

Hidup Harus Naik Kelas
Perjalanan hidup Ainy Fauziyah memang unik. Setelah sembilan tahun bergabung, ia memutuskan keluar dari Perum Perumnas pada 2005 dan bergabung dengan Oxfam Great Britain, LSM asal Inggris yang membantu membangunkan rumah untuk korban tsunami Aceh. Saat itu, jabatan terakhir ia di Perum Perumnas adalah asisten manajer perencanaan. Sudah tentu banyak yang menentang keputusannya keluar dari zona nyaman, terutama keluarga besarnya.

“Hanya suami yang mendukung keputusan saya,” ungkap peraih 100 Perempuan Inspiratif 2011 dari majalah Kartini.

Apa yang memutuskannya keluar dari zona nyaman, hidup enak, dan nyaman sebagai pegawai BUMN? Rupanya, bukti kebesaran Tuhan, yakni bukit di Owase Jepang yang indah, yang menggugah hatinya saat ia mengikuti sebuah pelatihan di negeri itu.

“Dari situ, saya berjanji untuk jujur pada diri sendiri dan berusaha naik ke tingkat kehidupan yang lebih baik dan bermakna, dengan berbagi kepada orang lain. Semakin saya membantu banyak orang, semakin saya membantu diri sendiri, itulah kebahagiaan yang saya cari,” ujar dia.

Ukuran kebahagiaan, kata Ainy, memang tidak selalu sama. Tetapi Ainy punya ukuran sendiri. Ukuran pertama adalah setiap orang harus punya mimpi dan berani mewujudkannya. Kedua, bersyukur kepada Tuhan setiap pencapaian yang didapat. Dan ketiga, selalu berbagi kepada orang lain.

Kembali ke Oxfam, di situ, Ainy mendapat tanggung jawab sebagai shelter coordinator untuk wilayah Lhokseumawe. Ia adalah satu-satunya shelter coordinator dari Indonesia, sementara lainnya adalah warga negara asing. Di sini, ia memotivasi para perempuan untuk bisa berkarya dengan bekerja sebagai tukang cat bagi rumah yang dibangun Oxfam untuk mereka.

Baca juga : Kompas.com – Puteri Indonesia Antusias Ikuti Kelas Motivasi

“Itu yang menjadi awal saya masuk ke dunia motivasi,” tutur dia.

Setahun kemudian, jabatan Ainy meroket menjadi program shelter coordinator Oxfam di Aceh. Berikutnya ia bergabung dengan CARE International Indonesia di Aceh sebagai manager construction dan memimpin beberapa warga negara asing. Tapi, pada 2009, lagi-lagi ia keluar dari zona nyaman dan memutuskan keluar dari LSM itu untuk menjadi seorang leadership motivator.

“Buat saya, hidup harus terus naik kelas dan harus bisa berdiri di kaki sendiri,” tegas Ainy.

Leadership, kata Ainy, sangat dibutuhkan setiap manusia. Prinsipnya, bagaimana bisa memimpin orang lain bila tidak mampu memimpin diri sendiri. Saat ini, setiap dua bulan sekali, Ainy menggelar program motivation class untuk umum, Leadership Coach untuk para senior manager dan eksekutif, serta menggelar Personal Coach untuk personal dan profesional.

Ainy telah mewujudkan mimpinya untuk bisa berbagi dengan orang lain. Masihkah ia mempunyai mimpi-mimpi lagi. “Ya, saya ingin menjadi motivator Indonesia yang go international. Prinsip hidup saya, hidup ini terasa bahagia luar biasa ketika kita tiada henti berusaha mewujudkan impian-impian kita, dengan terus berpuji syukur atas setiap nikmat- Nya sambil senang berbagi,” tutup Ainy.

Mardiana Makmun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.