Wanita dan Perubahan

Wanita dan Perubahan Be bold for change! Berani melakukan perubahan! Inilah tema International Women’s Day 2017 ini. Sekilas, kalimat itu terdengar mentereng dan hanya diperuntukkan para wanita yang keren. Padahal tidaklah demikian.

Kalimat ‘berani melakukan perubahan’ adalah untuk siapa saja termasuk diri kita tanpa harus memandang jabatan, profesi maupun pendidikan kita selama ini.

Bisa jadi Anda bertanya di dalam hati, ”Benarkah kita bisa melakukan perubahan? Memang kita ini siapa?”

Loh. Lupa, ya. Kita ini wanita yang memiliki kekuatan untuk membangun masa depan yang kita inginkan. Kekuatan itu sudah melekat dalam diri kita sejak lahir. Istilah kerennya ‘karakter’.

Sadarkah kita bahwa karakterlah yang menentukan masa depan kita? Sehebat apapun kita, selama karakter kita buruk, maka buruk pula hasil pekerjaan kita. Nasib kita pun menjadi buruk. Pandangan orang terhadap diri kita pun menjadi buruk. Ups!

Sebaliknya. Meskipun kita ini wanita biasa, namun memiliki karakter yang baik dan luar biasa, semua ini akan menggema begitu saja.

Bagaimana tidak? Setiap wanita yang berkarakter baik dan luar biasa, memiliki niat baik dan tekad kuat untuk menjadi wanita luar biasa yang bermanfaat bagi banyak orang.

Kita ambil satu contoh. Setiap kali melihat kemiskinan, kesengsaraan dan kesewenangan, kita kaum wanitalah yang lantang bersuara untuk menghadapinya. Sebagai wanita kita memiliki kepedulian untuk melakukan perubahan. Tanpa rasa takut gagal sedikit pun.

Jika dulu hanya ada beberapa nama wanita yang berjuang melakukan perubahan, kini ada sederet panjang nama wanita Indonesia yang peduli melakukan perubahan.

Jika dulu sewaktu kecil kita hanya mengenal beberapa nama pejuang wanita seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini dll, sangat berbeda halnya dengan sekarang.

Kini ada banyak wanita di Indonesia yang sangat dikenal kegigihannya dalam melakukan perubahan. Salah satunya adalah Tri Mumpuni. Wanita dari keluarga biasa yang lahir Agustus 1964 ini dijuluki sebagai penerang desa terpencil di Indonesia.

Berkat kepedulian dan kegigihannya ia berhasil menerangi 65 lokasi terpencil di Indonesia yang sebelumnya gelap gulita dengan tenaga mikro hidro.

Tujuannya bukan saja menerangi desa terpencil tetapi juga menjadikan desa-desa terpencil itu berdaya secara ekonomi. Seperti yang ia lakukan di dusun Palanggaran dan Cicemet, enclave di gunung Halimun Sukabumi Jawa Barat.

Di kedua dusun inilah awal langkah awal Tri menerangi desa adalah yang pertama diterangi pada tahun 1997.

Untuk mencapai lokasi yang sangat licin itu ia rela berjalan kaki sembilan jam atau naik motor dengan roda yang berlilitkan rantai. Setelah listrik menyala, uang hasil iuran penduduk setempat dipergunakan membangun jalan berbatu agar bisa dilalui kendaraan beroda empat sekaligus membuka peluang membantu 10 dusun yang lain.

Kini aktivitas wanita penerima penghargaan Ashden Awards 2012 ini semakin luas. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga sudah merambah ke negeri tetangga, Filipina.

Tri Mumpuni membuktikan pada kita bahwa sebagai wanita, setiap diri bisa melakukan perubahan. Dan kita sangat bisa membangun masa depan, baik diri sendiri maupun masa depan banyak orang. Semua itu ada di tangan kita. Mau menjadi wanita seperti apa kelak, kitalah yang memutuskan.

Saatnya kita merenungi diri. Bertanya kembali pada diri kita sendiri, sebenarnya kita ini mau menjadi wanita yang seperti apa?

Saya yakin jawaban kita sama, menjadi wanita yang bisa melakukan perubahan dan bermanfaat untuk banyak orang. Selamat melakukan perubahan!

 

Tulisan pakar leadership Indonesia Ainy Fauziyah diatas telah dimuat di CNN Indonesia https://cnnindonesia.com/kolom/ainy.fauziyah

Motivator terbaik Indonesia Ainy Fauziyah juga kolumnis di CNN Indonesia dengan detail profile https://cnnindonesia.com/kolom/ainy.fauziyah

Topik Lain Yang diMinati
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear formSubmit